Oleh: ET Hadi Saputra
Bung, ente kritis betul. Menatap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikasih napas—alias ditunda pemisahan totalnya—sampai tahun 2028 itu, emang bikin dahi kita mengkerut sampai mau copot. “Jangan-jangan negaranya udah bubar duluan sebelum 2028,” kata ente. Ngeri-ngeri sedap, tapi jujur saja, itu adalah sebuah refleksi yang sangat menohok sekaligus masuk akal!
Kok bisa lembaga sewibawa Mahkamah Konstitusi malah hobi kasih deadline longgar layaknya debt collector yang mendadak baik hati dan penuh kompromi? Di mana taring hukum yang katanya harus tegak lurus demi konstitusi?
Mari kita bedah seluruh sengkarut ini secara jernih, objektif, kagak pakai tedeng aling-aling, dan langsung kita preteli siapa saja aktor yang kenyang serta siapa yang bakal bonyok total akibat kompromi politik ini.
1. Main Cantik di Balik Istilah Hukum: Alibi “Konstitusional Bersyarat”
Di ruang sidang yang ber-AC mewah dan megah itu, jurus yang dipakai para hakim mulia namanya keren banget, Bung: conditionally constitutional alias konstitusional bersyarat [conditionally constitutional]. MK secara resmi memang mengetok palu bahwa anggaran program MBG wajib dikeluarkan dari porsi minimal 20% anggaran pendidikan yang diamanatkan oleh UUD 1945. Tapi, plot twist-nya di sini: eksekusi pemisahan total tersebut ditunda paling lambat sampai APBN Tahun Anggaran 2028.
Alasan formal di atas kertasnya sih normatif dan birokratis banget:
- Mencegah Kiamat Birokrasi Fiskal: Kalau MK bilang “Detik ini juga dana MBG haram pakai duit pendidikan!”, besok pagi sistem fiskal negara diklaim bisa langsung lumpuh. Duit ratusan triliun kagak bisa dipindah segampang kita mindahin saldo e-wallet di sela-sela waktu ngopi.
- Alibi Prosedural dan Siklus Anggaran: Pemerintah beralasan butuh waktu komprehensif buat menghitung ulang pos anggaran mandiri. DPR juga dikasih waktu buat merevisi UU APBN tanpa perlu bikin siklus keuangan negara guncang di tengah jalan.
Tapi ya itu tadi, ente kagak salah kalau langsung mencium bau anyir kompromi politik yang pekat. Kita sebagai publik lagi-lagi disuguhkan standar ganda yang telanjang bulat di depan mata.
Coba ingat-ingat lagi, Bung. Kalau urusan syahwat politik elite—kayak urusan syarat usia pencalonan capres-cawapres atau kepala daerah—putusan MK bisa langsung berlaku sore itu juga tanpa babibu! Kagak ada tuh istilah “tunggu dua tahun lagi ya”. Tapi begitu giliran urusan menyelamatkan duit pendidikan rakyat, MK mendadak berubah wujud jadi lembaga pengonsep yang sangat penyabar, penuh pengertian, dan hobi kasih toleransi waktu.

2. Karpet Merah: Siapa Aktor di Balik Layar yang Paling Diuntungkan?
Uluran waktu dua tahun dari MK ini jelas bukan ruang hampa udara. Ini adalah karpet merah yang sengaja digelar untuk memanjakan para aktor pencari untung di panggung kekuasaan:
Rezim Penguasa (Eksekutif)
Pemerintah bisa bernapas lega karena program mercusuar dan janji politik utamanya tetap aman berjalan tanpa perlu pusing mencari sumber pendanaan baru secara instan. Mereka kagak perlu buru-buru menaikkan pajak secara ekstrem atau memotong subsidi energi yang bisa memicu demonstrasi besar dalam waktu dekat. Istilahnya: program jalan terus, nama baik dan popularitas didapat, tapi bayarnya pakai duit “tabungan” sektor lain.
Koalisi Parlemen (DPR)
Para politisi di Senayan kagak perlu repot-repot kerja lembur bagai kuda untuk membedah ulang postur APBN secara radikal. Dengan adanya deadline 2028, mereka punya waktu lapang buat “main aman”. Mereka bisa mengamankan proyeksi anggaran di dapil masing-masing tanpa harus memicu ketegangan politik atau konflik terbuka dengan pihak Istana menjelang agenda-agenda politik strategis ke depan.
Para Kontraktor dan Vendor Raksasa MBG
Penundaan ini adalah jaminan kepastian bisnis. Para pengusaha kakap di sektor logistik, pangan, dan katering berskala besar yang terafiliasi dengan lingkar kekuasaan tetap bisa menikmati aliran dana segar dari negara secara konsisten. Mereka kagak perlu takut proyek pengadaan makanan ini bakal mandek di tengah jalan gara-gara sengketa konstitusi. Bagi mereka, transisi dua tahun adalah waktu yang sangat cukup untuk mengembalikan modal sekaligus mengeruk keuntungan maksimal.
3. Jeritan di Akar Rumput: Dana BOS Seret dan Sekolah yang Kian Sekarat
Di saat para aktor elite di atas bisa tersenyum lebar sambil bersulang, ada harga sangat mahal yang harus dibayar oleh anak-anak bangsa. Dampak paling mengerikan dari kompromi fiskal abu-abu ini langsung menghantam jantung pertahanan pendidikan kita, terutama di daerah-daerah terpencil:
Dana BOS Bakal Makin Kegencet
Alokasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sejatinya dipakai buat beli buku pelajaran, bayar listrik sekolah, langganan internet, dan membiayai kegiatan ekstrakurikuler siswa dipastikan bakal makin seret. Ketika anggaran pendidikan makro di tingkat pusat “dibajak” buat menyubsidi menu makanan gratis, maka kue anggaran untuk operasional riil sekolah di tingkat tapak otomatis bakal makin mengecil dan tercekik.
Sekolah Rusak Tetap Jadi Pajangan Belaka
Jangan harap ada perbaikan massal buat atap sekolah yang bocor, dinding kelas yang retak, atau bangku sekolah yang sudah reyot dimakan rayap. Duit negara yang seharusnya dialokasikan untuk rehabilitasi fasilitas fisik pendidikan terpaksa digeser demi mengejar target jutaan piring makan siang gratis. Infrastruktur pendidikan kita dipaksa tetap merana atas nama pemenuhan program populis.
Nasib Guru Honorer Makin Bonyok
Ini bagian yang paling bikin nyesek dada, Bung. Di tengah tuntutan agar kualitas pengajaran meningkat, kesejahteraan guru honorer yang cuma digaji beberapa ratus ribu sebulan bakal makin jauh dari kata layak. Janji-janji manis tentang peningkatan insentif atau pengangkatan massal terpaksa dimasukkan ke dalam kotak labu. Mengapa? Karena anggaran pendidikan kita sedang “sakit sakitan” menanggung beban bawaan dari program lain hingga tahun 2028 nanti.
4. Menatap Arah Angin: Masa Depan yang Digadaikan
Secara geopolitik dan peta domestik, deadline 2028 ini adalah cara MK melakukan tindakan safe play alias main aman. Mereka kagak mau dituduh menjegal program strategis penguasa baru, tapi di sisi lain mereka tetap pengen kelihatan keren dan seolah-olah membela konstitusi di mata para pengamat hukum. Akhirnya, diambil lah jalan tengah yang abu-abu, yang sayangnya, mengorbankan hak esensial anak bangsa.
Dua tahun itu waktu yang sangat lama dalam dinamika politik di Indonesia, Bung. Menunda ketegasan fiskal sampai tahun 2028 sama saja dengan membiarkan masa depan pendidikan kita digadaikan demi kompromi politik jangka pendek.
Pertanyaan ente di awal tadi justru menjadi sebuah kalimat refleksi yang paling fatal dan menakutkan: sebelum tahun 2028 itu sampai, apa jaminannya tatanan fiskal dan kualitas SDM kita kagak makin bonyok, hancur, dan tertinggal duluan akibat model kebijakan yang terus-menerus menomorduakan sektor pendidikan?
Jangan sampai ketika tahun 2028 itu tiba, kita baru sadar kalau kita sudah telat menyelamatkan satu generasi. Mana nih suaranya pakar hukum tata negara kita, Bung @feriamsari? Tolong ikut pelototin ini! Mana tuh Menteri Bayangan yang katanya paling jago ngatur strategi di balik layar? Kok mendadak sunyi senyap pas duit pendidikan rakyat mau digerogoti sampai dua tahun ke depan?
Bagaimana menurut ente, Bung?
#SerbaMedia #PutusanMK #MakanBergiziGratis #AnggaranPendidikan #DanaBOS #KritikMasyarakat #SaveDanaPendidikan #KompromiPolitik #MenteriBayangan #FeriAmsari #FiskalNegara #PendidikanIndonesia

