Pak Kusno tersenyum getir di depan warung kopi. Di genggamannya ada selebaran janji: kesehatan cuma-cuma, listrik gratis, bensin subsidi, ongkos angkot nol rupiah, sekolah tanpa bayar, makan siang gratis, hingga bangku kuliah cuma-cuma.
Surga dunia. Lengkap sekali.
Mirip orang hendak sembahyang subuh. Sudah mandi pagi dengan air sejuk. Menggosok daki. Mengambil wudhu dengan tertib: dari ubun-ubun rambut sampai tumit dan mata kaki. Tubuh sudah wangi. Hati sudah khusyuk. Tinggal selangkah lagi menuju hamparan sajadah.
Eeeh… mendadak terdengar bunyi pluut.
Kentut.
Selesai. Batal total. Kesucian yang dirajut runtuh seketika hanya karena sekelebat angin tanpa wujud.
Itulah yang terjadi pada baris penutup: omon-omon gratis.
Janji jani terdengar luhur, tapi tanpa kalkulasi ekonomi perusahaan dan ruang fiskal yang waras, itu cuma transaksi pasal di etalase politik liberal. Membina negara bukan sekadar panggung membagi sedekah dari utang yang mencekik. Ada soko guru ekonomi Pasal 33 UUD 1945 yang wajib dihidupkan, bukan disulap jadi karpet merah bagi satpam modal.
Ketika etika berbangsa lenyap dan rasa malu (wedi wirang) menguap, janji populis berubah jadi racun penenang bagi akal sehat. Padahal kekuasaan adalah baju pinjaman yang kelak dihisab di hadapan Tuhan.
Heran. Mau sampai kapan kita terpesona pada deretan menu gratisan, jika juru masaknya sendiri hanya pandai membuang angin di ruang publik?
