Oleh: E.T. Hadi Saputra
Di sudut sunyi Sancaya Art Space, yang membelah keriuhan Cinere Bellevue Mall, kita mendapati diri kita berdiri di hadapan cermin yang retak. Di sana, seni tidak lagi hadir sebagai kepakan sayap estetika yang mengawang-awang di udara hampa, melainkan sebagai sebuah ziarah ingatan yang getir. Pameran bertajuk “Surat Cinta Untuk Negeri” yang dikuratori oleh trio Aendra Medita, Bambang Asrini, dan Susi Adrini ini, bukanlah sebuah perayaan dengan trompet patriotisme yang bising. Ia adalah sebuah ode visual—sebuah parodi yang tajam, sebuah gumaman yang mengolok-olok diri kita sendiri sebagai warga bangsa.
Sebuah “surat cinta” biasanya ditulis dengan tinta rindu yang manis. Namun, di tangan 26 seniman, fotografer, arsitek, dan pembuat karya instalasi yang berhimpun di sini, cinta mewujud dalam rupa kegundahan, rasa sedih, dan empati yang mendalam atas sebuah negeri yang telah berjalan tertatih-tatih selama 81 tahun ini. Cinta di sini adalah kehati-hatian, sebuah kewaspadaan spiritual bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja pada tubuh Ibu Pertiwi kita.
Tengoklah sebuah instalasi spiral logam yang meliuk anggun, memancarkan cahaya putih neon di kegelapan. Di atas lempengan-lempengan melingkar itu, terpahat baris-baris huruf Ibrani kuno yang sunyi. Seorang arsitek tengah membangun sebuah altar doa, merapal mantra-mantra purba untuk sebuah negeri yang sedang didera kecemasan. Mengapa harus bahasa Ibrani? Mengapa harus mantra asing di tanah nusantara? Barangkali, ketika kata-kata keseharian kita telah terpolusi oleh hoaks, disrupsi digital, dan retorika politik yang menyesakkan dada, kita membutuhkan bahasa yang asing dan transenden untuk mengetuk kembali pintu langit. Sebuah bahasa yang belum terjamah oleh kemunafikan sehari-hari.
Lalu, di sudut lain, seberkas cahaya keemasan menembus kegelapan, menerangi sebuah potret stensil dari sosok heroine—perempuan jenial dari masa lalu yang duduk dengan keanggunan yang kokoh. Ia adalah memori tentang kepemimpinan yang agung, tentang keteladanan yang kini hilang dan menjadi cerita sedih hari ini. Namun, tepat di samping keanggunan masa lalu itu, pada dinding abu-abu semen yang dingin, terpampang tulisan grafiti yang kasar dan lugas: “MUKAMUAK”. Kontras ini laksana tamparan. Keagungan sejarah disandingkan dengan kemuakan kontemporer. Di tengah krisis keteladanan, ketika kita belum juga menemui pemimpin yang mampu memberi arah, seniman tidak lagi berbisik. Mereka berteriak melalui dinding-dinding bisu, mengekspresikan kejenuhan rakyat terhadap drama kekuasaan yang tak kunjung usai.
Kemurungan ini kian menebal ketika kita menyaksikan seorang performans dalam balutan gaun dan selubung hitam pekat. Di atas bentangan kanvas putih yang dipenuhi goresan arang hitam, ia bergerak—sebuah performans yang mengeksplorasi figur Dewa Shiva, sang penjaga siklus semesta yang melahirkan, merawat, sekaligus membinasakan. Arang yang berserakan dan sapuan hitam di atas putih adalah visualisasi dari tarian kosmis penghancuran untuk pemurnian. Di sini, sang seniman mengingatkan kita bahwa entitas politik seperti negara bisa saja runtuh dan hilang dalam sejarah, namun daya hidup (eros) dari bangsa-bangsa akan tetap abadi. Kerusakan yang kita saksikan hari ini barangkali adalah bagian dari siklus Shiva yang niscaya, sebelum sesuatu yang anyar dan muda terlahir kembali dari abunya.
Pameran ini berhasil menghindari jebakan glorifikasi kecintaan yang membabi buta. Melalui satire yang kental, para perupa seperti menyodorkan cermin retak ke hadapan wajah kita masing-masing. Kita diajak mengaca dan bertanya lirih di tengah himpitan dunia digital yang merapuhkan jurnalisme sehat dan menciptakan hoaks: Apakah kita, setelah lebih dari delapan dekade berjalan, sudah benar-benar merdeka?
Cinta pada akhirnya bukan sekadar slogan yang diteriakkan di podium-podium kekuasaan. Cinta, sebagaimana yang didekap erat oleh para perupa di Sancaya, adalah tindakan merawat Ibu Pertiwi yang sedang sakit, menjaganya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, meskipun harus berjalan dengan kaki yang tertatih-tatih.





